Patah Tulang | Operasi atau Urut ? - ila yahya

17.12.16

Patah Tulang | Operasi atau Urut ?

Mari mengingat-ingat kejadian beberapa bulan yang lalu.. 
Kecelakaan di bulan Januari kemarin tepatnya 11 Januari 2016 (Jadi ingat lagunya Gigi 11 Januari hahahahaa) menyebabkan ada tulang yang patah di bahu kiri. Lantas apakah saya harus operasi atau diurut saja? Sempat merasa galau karena 2 pilihan itu. Dan saya memiliki beberapa pertimbangan-pertimbangan di antara keduanya. 

Sebelumnya sudah ada 2 orang yang pernah patah tulang di rumah, bapak dan kakak Cowok (kak Ali). Ditambah Adek (Jumadi) yang juga pernah kecelakaan dan tulang di pergelangan tangannya ada yang retak. Yah bisa di bilang kami keluarga patah tulang Hahahaha (langganan gitu patah tulangnya). Tapi mereka (kak Ali dan Bapak ) mengambil jalan "urut", kecuali Jumadi yang hanya membiarkan tulangnya yang retak itu. Yah.. Bapak memutuskan untuk mengurut pergelangan tangannya di orang pintar seberang sana, alhasil pergelangan tangannya terlihat agak bengkok. Sedangkan Kak Ali, dialah yang paling parah. Tulang lengan bawah dan lengan atasnya seakan terpisah, hanya dibungkus oleh kulit. Ah.. mengingat insiden kecelakaan kak Ali di tempat kerjanya dulu, membuat saya jadi ngeri sendiri. 

Dia lalu diberi tahu oleh temannya bahwa ada orang pintar yang jago ngurut berbagai jenis patah tulang. Yah ibaratnya 'tukang urut spesialis patah tulang' lah. KATANYA, sudah banyak korban patah tulang yang tersambung dengan baik tulangnya setelah diurut di sana. Kak Ali pun ke sana bersama saya. Sampai di rumah tukang urutnya, kak Ali masuk sendiri dan saya menunggu di luar. Dan apa yang terjadi ? dari luar rumah, saya mendengar suara kak Ali yang sedang teriak-teriak. Benar-benar tidak tega saya mendengarnya saat itu. 

Beberapa bulan berlalu. tangan kak Ali sudah tidak ada keluhan lagi, tulangnya memang tersambung menurutnya. Tapi tidak bisa diluruskan. Jadi sikunya tidak bisa lurus, yah maksimal 120 derajat lah. Beruntung kak Ali sudah laku -Hahahaha-. Jadi dia tidak mempermasalahkan tangannya yang tidak bisa lurus sempurna, yang penting tangannya utuh di badannya katanya.

Dua contoh nyata itu membuat saya berpikir berkali-kali untuk melakukan urut pada tulang yang patah ini. Di saat saya sendiri di kamar, saya memikirkan beberapa pertimbangan dari opsi urut dan operasi. Dan saya memantapkan hati untuk memilih Operasi.

"Mengapa operasi ?", "kenapa tidak diurut saja? toh operasi banyak resikonya...",  "Gak takut bakal kenapa-kenapa di meja operasi?", "Katanya nih yaa.. kalau operasi pasang pen, nanti kalau hujan trus ada petir, tulangnya bakal ngilu", "Bagaimana kalau operasinya gagal?", "Biaya operasi kan mahal..", "Diurut saja.. di sana ada orang pintar yang bisa memperbaiki tulang. Dulu ada orang yang patah-patah, habis dari sana sudah normal kembali tulangnya. sudah bisa naik motor malah", bla bla bla bla.. dan masih banyak lagi. Itu baru beberapa hasutan dari tetangga dan keluarga yah. 

Itulah mengapa ketika saya kecelakaan kmaren sampe saat operasi, sebisa mungkin hanya sedikit saja teman yang tahu, yah paling orang-orang terdekat saja. Maka beruntunglah kalian yang diberitahu oleh saya, itu artinya kita dekat. #Eeeehhhhhh :D :D




Saat mengetahui bahwa saya patah tulang, dipikiranku saat itu sedikit memihak pada jalur operasi. Mengapa? karena dari awal saya telah ditangani di jalur medis, jadi yah alangkah baiknya jika sampai tuntas melalui jalur medis saja, sampai tulang ini bagus kembali. Dan juga, saya ingin membuktikan pada diri sendiri dan orang-orang sekitar bahwa operasi tak semengerikan yang mereka bayangkan. 

Waktu itu banyak yang menyarankan kepada saya untuk sebaiknya diurut dari pada dioperasi. Saya juga sudah terlalu banyak mendengar cerita tentang operasi yang gagal, efek dari operasi pemasangan pen, dan sebagainya. Tapi membayangkan tulang yang patah bakal diurut, saya jadi ngilu duluan. Gerak saja susah, malah tulangnya mau dipaksa buat menyatu kembali. oh Nooo !!! Itu pasti sakit banget !!


Dibandingkan dengan operasi, sudah pasti biaya urut jauh lebih murah. Tapi tidak ada jaminan bahwa tulangnya akan benar-benar tersambung dengan baik. Kecuali tukang urutnya memang sakti tingkat dewa -hahahah-. Dan pastinya, dengan diurut, tidak akan ada bekas goresan pisau bedah. Tapi lagi-lagi, tidak ada jaminan bahwa tulangnya akan tersambung dengan baik. Jika urutnya berhasil, tidak akan ada bekas goresan pisau bedah dan kondisi tulang akan seperti sebelum patah tulang. Tapi kalau urutnya tidak berhasil? Si tulang bakal menonjol keluar. Dan itu lebih menakutkan ketimbang bekas goresan pisau bedah. 

Berbeda dengan urut, operasi lebih menjamin bahwa tulangnya akan tersambung dengan baik. Bagaimana tidak, tulang yang patah itu akan dipasangi besi yang akan menyangga patahan tulang tersebut agar tetap berada pada tempatnya sampai tulang yang patah benar-benar menyatu.

Saya tidak pernah mencemaskan sakitnya operasi. Karena antara urut dan operasi, lebih sakit diurut, menurutku. Kok bisa? ya iyalaahh.. dioperasi memang bakal diiris kulitnya dengan pisau bedah, kemudian tulangnya bakal dipasangi besi dan beberapa mor. Taapiii.. itu dalam keadaan terbius total. Jadi yaahh.. tidak bakal merasakan itu semua. Jadi kita terima beres.. selama ada dokter Anestesi, tidak bakal merasakan sakitnya dibedah kok. Sampai saat sadar pun bakal dikasih obat anti nyeri. Jadi nyut-nyut bekas operasinya akan sangat berkurang. Berbeda dengan urut, tanpa obat bius tanpa dibuat tertidur, si tulang yang patah bakal disentuh-sentuh, dan itu bukan sentuhan yang lembut. Ah bayangkan sendiri deh bagaimana jika tulang patah diurut. Sampai saat saya menulis ini pun, saya jadi ngilu sendiri membayangkan tulang yang patah diurut. Saya bahkan menjuluki mereka yang patah tulang kemudian mengambil jalan urut adalah orang yang hebat, orang yang tangguh. Tanpa obat bius mereka bisa menahan sakitnya si tulang dianiaya oleh tukang urut. Kalau saya mah ogah. Saya tidak akan bisa menahannya.

Di sisi lain, satu-satunya hal yang membuat saya sedikit ragu untuk melakukan operasi adalah karena jahitan bekas operasi. Selama ini, bekas operasi yang saya lihat adalah satu jenis, tidak rapi alias tidak cantik, seperti Lipan. Entah karena skill dokternya yang masih kurang dalam hal menjahit bekas operasi, atau itulah yang namanya the power of 'asal jadi', jahitan yang asal bisa menutup kulit yang sudah di bedah. Apalagi jika pasien itu mempunyai bakat keloid, lengkaplah sudah. Tunggu, apa itu keloid ? Keloid adalah jaringan kulit tambahan yang tumbuh di bekas luka. Pernah lihat orang yang memiliki bekas luka atau bekas jahitan yang menonjol / terlihat timbul ? seperti itulah keloid.

Di saat saya sendiri, saya pun berpikir, mencari-cari penguat keputusan untuk operasi. Saya menanamkan di pikiran "Ah apalah arti bekas jahitan. toh kalau seperti lipan, itu bakal tertutup sama baju. Tidak akan kelihatan kok.. asal tidak pake baju-baju yang terbuka. Lagian dokternya pasti akan menjahit bekas operasinya dengan rapi. Masa iya dokternya tega memberikan jahitan  yang sembrono pada seorang wanita, masih muda lagi #Eeeeaaa :D. Jadi santailah.. setidaknya dengan operasi, si tulang bakal benar-benar tersambung dengan baik. Dari pada diurut, bisa saja tulangnya akan menonjol keluar. Jadi pilih mana, tulang yang menonjol atau bekas operasi yang seperti lipan?"


Okeh fix.. Saya ingin dioperasi saja. Dan operasi pemasangan pen saat itu berjalan lancar, Alhamdulillah. Bekas jahitannya pun tidak seperti yang kubayangkan, yang seperti lipan. Malah jahitan bekas operasinya hanya seperti sebuah goresan, rapi dan cantik -Makasih dokter :)-. Baca kisah selanjutnya, Operasi pemasangan Pen.

Tapi ni yah, buat kalian yang patah tulang, itu terserah kalian pengen diurut atau dioperasi. Mantapkan hati. Yakin ingin dioperasi atau yakin ingin diurut. Karena banyak juga kok yang katanya tulangnya membaik setelah diurut. Tapi kalau saya pribadi sih, tidak ingin teriak-teriak saat diurut. Makanya lebih pilih operasi. Pertimbangkan juga persoalan kemudahan biaya. Tapi kalau korban kecelakaan lalulintas, bakal di bantu oleh Jasa Raharja kok (asal kalian mengurusnya di Jasa Raharja). Kalau Biaya selama perawatan melebihi santunan yang diberikan oleh Jasa Raharja, bisa dicover oleh BPJS (kalau kalian punya BPJS). So, that's up to you guys.


No comments:

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Silahkan tinggalkan komentar ^_^

@ilayahya_