2016 | Post ORIF Part I - ila yahya

17.9.16

2016 | Post ORIF Part I

Saat masih di RS, saya sering mendengar dokter yang menangani saya mengucapkan ORIF dan Post ORIF. Saya bertanya-tanya dalam hati, itu apa yah ? apakah sejenis Obat ? atau sejenis makanan ? ataukah itu salah satu jenis patah tulang ? Hahahahah. Agar tidak semakin ngawur, saya pun bertanya pada om saya, Om Gugel.

Lalu, ORIF itu apa? Ternyata tebakan yang tadi semuanya salah, pemirsa. Jadi, ORIF adalah singkatan dari Open Reduction and Internal Fixation, yaitu suatu tindakan untuk melihat fraktur langsung dengan teknik pembedahan yang mencakup di dalamnya pemasangan pen, sekrup, logam atau protesa untuk memobilisasi fraktur selama penyembuhan (Depkes, 1995:95). Singkatnya, ORIF adalah operasi pemasangan pen pada tulang yang patah. Jadi post ORIF, adalah pasca / setelah Operasi Pemasangan Pen.


Post ORIF
Beberapa jam setelah operasi, saya dibawa ke Radiologi untuk dirontgen. Setelah rontgen, saya dikembalikan ke kamar. Yah sekitar jam 5 sorelah (sebelumnya masuk ruang operasi jam setengah 1). Dan di sinilah awal penderitaanku -hahahahah berlebihan-. Gak kok.. bukan penderitaan. Lebih tepatnya, efek Anestesinya mulai terasa. Saya mual dan muntah-muntah sampai malam. Muntahnya lebih dari 8 kali dan yang keluar air semua. Ya iyalaahhh.. kan sebelumnya emang disuruh puasa sebelum operasi. Alhasil lambung benar-benar kosong. Tapi, air yang saya muntahkan itu dari mana yah ? mungkin dari cairan infus kali yah.. *Entahlah. Berhubung saya muntahnya tidak konsisten, kadang muntah ke sebelah kanan, kadang muntah ke sebelah kiri. Alhasil, perban bekas operasinya ikutan basah dan harus diganti besok paginya.

Hari Pertama Post ORIF
Dua dokter (Anestesi dan Orthopedi) datang mengunjungi dan menanyakan keadaanku. Untuk pagi ini masih aman. Namun terasa agak kaku sih di bagian bahu kiri sampai lengan. Tapi tak mengapa.. saya strong kok anaknya.

Setelah dua dokter tadi kembali ke markasnya -yaelaahhh markas.. lu kate power ranger..-, saya mulai ngutak-ngatik hp. Tapi gak sampe curhat ke sosmed yah.. paling cuman dengar musik dan menanggapi Line yang masuk. Nah saya kaget. Kok ada chat Line dari dokter Orthopedi yang menanyakan keadaanku? Sejak kapan saya berteman di Line? Oohhh baru ingat.. rupanya kmaren saya sudah nge-save nomornya. Dan Line ada fitur auto add friends melalui kontak hp. Makanya Line kami otomatis berteman. Baru beberapa kali berbalas chat, saya mulai merasa tidak enak badan. Saya melepas headset yang terpasang di telinga. Seluruh badan mulai terasa kram. Saya mulai mengeluarkan keringat dingin dan sama sekali tidak bisa berbicara. Padahal di sebelah kanan ada mama yang nungguin. Saat itu hp masih di tangan dan aplikasi Line masih terbuka. Saya berusaha memberitahu dokter apa yang saya alami. Dan yang bisa kuketik hanya satu kata yaitu: 'KRAM'. Saya mulai sesak napas, benar-benar sulit untuk bernapas. Ternyata mama menyadari keadaanku dan cepat-cepat memanggil suster. Suster mengambil alat bantu oksigen dan memasangkannya ke hidungku. Tak lama kemudian, dokter Orthopedi datang dan mulai menenangkanku dan menyuruhku untuk mengatur napas. Beberapa menit kemudian saya merasa membaik dan tertidur. 

Hari ini hasil rontgennya keluar. Dan inilah hasilnya;

(Rontgen ke 3 : 12 Feb 2016)

Pertama kali ngeliat hasil rontgen ini, saya agak aneh-aneh gimanaaa gitu... Kasihan Tulangkuuuuu :'( :'(
Tapi dokternya hebat yah.. bisa masang benda-benda ini di tulang yang patah biar tulangnya bagus kembali. *Yaiyaalaahhh.. kan emang bidangnya... 

Untuk hari pertama setelah operasi, yang bisa kulakukan hanya baring di tempat tidur. Masih agak pusing dikit sih.. Nafsu makan juga belum muncul sepenuhnya. Dan penyangga lengan harus tetap terpasang. Belum boleh banyak gerak (karena emang kalo gerak masih sakit bahunya). Saat mengganti pakaianpun dibantu oleh kak Wiwin. Makasih Kak Wiwin telah memperlakukanku dengan sangat baik layaknya pasienmu sendiri :D :D

Hari ke tiga Post ORIF
Di hari ke tiga ini, sudah mulai ada perkembangan. Saya memutuskan untuk mandi pagi (efek kegerahan beberapa hari kemarin yang cuman mandi pake tisu basah hahaha). Saya juga mulai bergentayangan di luar kamar. Tapi tetap.. penyangga lengan masih harus tetap terpasang.  Hari ini juga waktunya ganti perban. Dan tentu saja, dokternya langsung yang mengganti perbannya. Ahh dokter yang satu ini bener-bener total dalam menangani pasiennya. Pokoknya terbaik deehh.. *Hohohoh berani muji-muji kayak gini karena pastinya gak bakal dibaca sama dokternya. :D :D :D

Hari ke lima Post ORIF
Yeeeeaaayyy.. hari ini boleh pulang.. Pengurusan administrasi baru kelar saat sore hari, makanya baru bisa pulang pas sore. Dan saya benar-benar rindu.. rindu pada kamar, rindu pada Fedi Nuril. Wah siapa Fedi Nuril ? Jeng jeng jeng jeng.. ini dia Fedi Nuril:

(Fedi Nuril Ga mau senyum :D :D)

Saya benar-benar rindu dengan anak ini. hampir seminggu gak ketemu, dia malah segan. Pas ketemu hampir saja saya khilaf menggendongnya. Untung saja saya langsung ingat pesan dokter untuk tidak menggendong Fedi Nuril dulu. *Kok dokternya tahu tentang Fedi Nuril? | iyalaahh.. saya sudah sedikit cerita tentang tuh anak. hahahah

Seminggu Post ORIF
Hari ini waktunya ganti perban lagi. Dan saya harus kembali ke poli RS itu untuk mengganti perban. Sambil dibantu oleh mama memakai baju, saya mulai bersiap-siap untuk ke RS. 

Okeehh waktunya ganti perban..

(Bekas Operasi)

Dan seperti inilah penampakan bekas operasi kemarin. Cantik kan hasil jahitnya... Padahal sebelumnya yang saya takutkan ketika operasi adalah bekas jahitnya yang seperti Lipan. Tapi ternyata tidak seperti yang saya bayangkan. Jadi ketika saya benar-benar pulih, bekas operasi ini hanya akan seperti satu goresan.

Dua Minggu Post ORIF
Hari ini waktunya lepas benang. Yang ada di benakku saat itu, lepas benang itu bakal sakit banget. karena pernah liat adek merasa kesakitan saat lepas benang (tapi teknik jahitan kami emang berbeda). Dokter ngajak ngobrol, saya sempat bilang ke dokter, "Apa bisa saya dibius saja sebelum benangnya dilepas?" (saking takutnya merasa kesakitan). Sambil tertawa, dokter meyakinkan saya bahwa tidak bakal sakit. 

Entah kapan dokternya menarik benang itu, tau-taunya dokter sudah bilang, "benangnya sudah lepas". Yaelaahhh tidak terasa sama skali. Tau gitu, ngapain saya lebay duluan tadi takut merasa nyeri saat benangnya dilepas -malu-maluin aja lu Tong-. Hahahah apakah ini yang namanya 'The power of Ngobrol' ? :D

Kalau benangnya sudah dilepas, lukanya sudah boleh kena air, kata dokter. Dan setelah benangnya dilepas, urusanku dengan RS ini selesai untuk sementara waktu. Yaaahh.. Berarti tidak ketemu sama dokter ganteng lagi dong #Eeehhh :D. Dokter makasih yah sudah merawatku dengan baik. Smoga pendidikan spesialisnya lancar sampai selesai. Pokoknya makasih doookkk :) :)

Walaupun kata dokter bekas operasinya sudah boleh kena air setelah benangnya dilepas, tapi saya tidak langsung menerapkan itu. Saya masih ragu, takut terasa nyeri kalau pas kena air. Jadi saya menunggu beberapa hari lagi. Seminggu setelahnya, saya memberanikan diri untuk membiarkan si bekas operasi terkena air. Dan ternyataaa... tidak ada terasa nyeri sama sekali. Padahal sebelumnya, saya sudah mengancang-ancang bakal minum anti nyeri jika nyeri atau sakitnya bakal muncul saat terkena air.


Hohohoho sepertinya tulisannya kepanjangan kalau ditulis di sini semua. Bersambung ke Post ORIF Part II yaaahhh.. ;)

No comments:

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Silahkan tinggalkan komentar ^_^

@ilayahya_