Mules yang Berujung pada Tilang. Anggap Saja Habis SEDEKAH - ila yahya

4.5.17

Mules yang Berujung pada Tilang. Anggap Saja Habis SEDEKAH

Hari ini ada pelatihan Copywriting dan selesai sekitar jam 12 siang. Saya kemudian buru-buru pulang karena setelah ini masih harus ke rumah teman. Ditambah lagi di perjalanan pulang, perut terasa mules. Sampai di Adipura, biasanya saya belok kiri untuk menuju rumah. Tapi entah mengapa, hati saya pengennya jalan terus. Di lampu merah, lampu menunjukkan warna kuning. Biasanya saya paling taat dengan rambu lalu lintas, termasuk tentang lampu merah ini. Tapi karena saya perutnya terasa mules banget, makanya saya balaplah pas lampu masih kuning, biar masih sempat lolos. Tapi sejak sudah kecelakaan tahun lalu, saya merasa mata saya jadi agak rabun jauh. Eh ternyata setelah lampu merah, ada polisi yang melambaikan tangan seakan pengen nebeng -hahahaha-. Yah.. saya diberhentikan. Mungkin ini yang dinamakan apes.

Saya teringat berita yang baru-baru ini viral, sebuah mobil di kejar oleh Polisi karena tetap melaju saat Polisi memberhentikannya. Lebih parahnya lagi, mobil itu ditembak (kalau tidak salah 9 kali) dan menyebabkan seseorang yang ada di dalam mobil harus kehilangan nyawa. Saya teringat itu, makanya saya langsung berhenti saat Polisi memberhentikan saya. Pasti para pengguna jalan lainnya ada yang ketawa-ketawa melihat saya diberhentikan (karena saya juga suka kayak gitu dulu. *Mungkin ini yang dinamakan karma -Hahahah-), dan bukan tidak mungkin bakal ada yang berpendapat, "bodo'nya itu cewek, kenapa berhenti. Harusnya tetap saja jalan". Ah bodo amat, inikan masalah saya, jadi saya yang harus selesaikan. Saya disuruh berhenti, yah berhenti saja. Toh Polisinya juga tidak makan orang. Paling ujung-ujungnya UANG.

Polisi meminta saya mengeluarkan SIM dan STNK, kemudian mengajak saya masuk ke posnya. Ah benar-benar apes. Saat saya berada di dalam, perasaan mules tadi malah hilang. Liat Polisi mengeluarkan buku tilang dan pulpen, mules saya jadi hilang. Diapun menjelaskan pelanggaran saya. Saya sudah menjelaskan, "tadi pas saya mau lewat, baru lampu kuning, pak". Saya juga sudah bilang kalau tadi perut saya mules. Tapi yang namanya Polisi, alasan lo kagak berlaku. Pokoknya Lo BAYAR!!!

Dia terus menjelaskan tentang pelanggaran saya dan  500.000 yang harus saya bayar di bank sambil sok-sok nulis. Namun masih bisa lewat jalan damai, 100.000. Saya tau arah pembicaraan pasti akan mengarah ke situ. Tapi pastinya saya tidak akan mau membayar 500.000 dan 100.000 itu. Maka saya tawarlah. Saya rencananya cuman mau bayar 20.000 atau 30.000 seperti yang pernah kakak bayar saat ditilang dulu. Tapi ternyata letak apes saya malah dobel. Saya teringat, di tas cuman ada uang nominal 100.000 dan 50.000. Ya ampun.. Kenapa harus 50.000 yang paling kecil? Kenapa tidak ada uang 20.000 atau 10.000an di tas? Karena malas berlama-lama di situ, maka saya kasihlah uang biru itu. Yang tadinya Polisi itu menekan-nekan saya, setelah menerima uang itu malah jadi baik cara bicaranya, "oh iya hati-hati yah di jalan". Sambil meninggalkan tempat itu, dalam hati saya beberapa kali mengatakan, "Saya benar-benar tidak ikhlas pak!".

Sebelumnya, saya memang tidak pernah menilai baik Polisi. Karena saya memang lebih banyak melihat sisi negatif pada Polisi. Walau sebenarnya MUNGKIN ada juga Polisi yang memiliki sisi positif. Tapi saya pribadi, belum pernah menemukan polisi yang mengagumkan. Sebelumnya saya juga tidak pernah ditilang. Yah mungkin ini pelajaran baru buat saya, mata harus lebih jeli saat berkendaraan -hahahah-. Dulu sebelum kecelakaan, dari kejauhan pun sudah terlihat 'pakaian coklat + rompi hijau'. Walau tak memiliki pelanggaran apapun, saya biasanya deg-degan saat melihatnya. Apakah ini yang dinamakan cinta? #Eeeeehhhh. Tapi kini, mata ini sudah tak se-jeli yang dulu.

Di perjalanan menuju rumah, untuk menghibur diri, di dalam hati dan pikiran saya terus mengatakan, "Anggap saja itu sedekah, sedekah ke Polisi. Sedekah bisa ke siapa sajakan... termasuk ke Polisi", "Atau anggap saja 50.000 itu sudah dipakai buat makan atau nongkrong", "Atau anggap saja habis nraktir pak Polisi", Atau anggap saja 50.000 itu sudah dipake buat beli lipstik dan lipstiknya hilang entah ke mana", "Atau yah.. mungkin itu sudah rejekinya pak Polisi".

Semoga uangnya bermanfaat yah buat anak istrinya di rumah, pak. Saya bakal ikhlas kok kalau uangnya digunakan untuk hal yang bermanfaat buat anak-istrinya. Tapi kalau buat beli rokok, saya benar-benar tidak ikhlas pak, suwer deh. Wkwkwkwk

Kesimpulannya, pelajaran yang bisa diambil adalah:
  • Kalau di lampu merah sudah menunjukkan lampu kuning, mending jangan makin dibalap, sebaiknya berhenti.
  • Usahakan surat-surat berkendaraan seperti SIM dan STNK lengkap.
  • Pelihara uang kecil seperti 20.000an / 10.000an / 5.000an. Jadi, saat terpaksa berada pada posisi ditilang, kasih tuh uang kecil -hahahaha-.
  • Sebelum berkendaraan, negosiasi dulu sama perut. Jangan mules saat sementara mengendarai. Wkwkwkwk
  • Bila sudah terlanjur ditilang dan harus bayar, yah anggap saja itu habis sedekah. Kapan lagi kan.. sedekah sama Polisi.



No comments:

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Silahkan tinggalkan komentar ^_^

@ilayahya_