2016 | Kecelakaan dan Patah Tulang - ila yahya

21.3.16

2016 | Kecelakaan dan Patah Tulang

Waktu itu tanggal 11 Januari 2016. Entah ada angin apa hingga saya mau mau saja diajak ke Toko Agung oleh adek bungsu (Guntur namanya). Sempat bimbang juga antara mau ikut atau tidak. Tapi karena teringat ingin membeli sesuatu di sana, okeh saya ikut. Dan berhubung saya adalah anak yang baik (*Ceileeehh.. ), saya pamit dan salaman dulu ke mama. Tepat jam 12 siang, kami capcuusss. Dari awal memasuki jalan raya, cara mengendarai Guntur sungguh sangat sangat menakutkan. Yaahhh.. dia pembalap gagal. Mungkin ingin seperti Rossi, tapi sayangnya dia salah arena. Hahahaha

Alhamdulillah kami sampai dengan selamat di Toko yang dituju. Setelah membeli semua yang ada di list, kami pulang lewat jl. Lanto Dg. Pasewang. Dan di situlah peristiwa tak terlupakan itu terjadi. *Ulalaaaa bahasanya.. hahahaha. Yaahhh saya akui.. kala itu Guntur mengendarai motor dengan sangat kencang. Mungkin sekitar 70-80 km/jam. Mungkin jika kecepatan seperti itu di jalan yang kosong atau sepi akan sah-sah saja. Namun di jalan yang kami lewati itu, banyak kendaraan. Tepat di depan Rumah Sakit Dadi ada pertigaan Jl. Rusa. Dan dari jalan itu, tiba-tiba ada motor yang hendak motong jalan. Sedangkan motornya Guntur juga kencang. Maka terjadilah kecelakaan yang tak dapat kami hindari. Sangat jelas teringat, saya terlempar kedepan dengan posisi badan bagian kiri, spesifiknya bahu kiri yang duluan mendarat di aspal. Dan satu hal yang terlintas di benakku saat itu, "ternyata begini rasanya kecelakaan". Gileeee... kalau diingat-ingat kembali, kok bisa-bisanya yah kalimat seperti itu yang pertama kali muncul di benakku kala itu. Hahahahaha Aneh !!


Tepat di posisi Bpk Polisi adalah tempat saya Kecelakaan

Kecelakaan itu terjadi sekitar jam 2 siang, dan matahari lagi hot-hotnya. Bodo amat dengan aspal panas. Saya mulai merasakan sakit pada bahu kiri, dan saya tinggal dlu sejenak terkapar menahan sakit walau sebenarnya saya dalam keadaan sadar. Saya melihat si kece beat biru yang tadinya cantik kini tak cantik lagi terbaring di depan mataku serta puing-puing kecil patahannya berserakan disekitarku. Kemudian seseorang menolong saya. Tapi sayangnya dia nolong  dengan cara yang keliru. Pernah ngangkat kucing dari belakang? Atau pernah melihat seseorang ngangkat kucing dari belakangnya si kucing? Nahh seperti itulah saya di tolong saat itu. *tak usah dibayangkanlaah Hahaha. Kemudian saya didudukkan di pinggir jalan. Alhamdulillah helm masih di kepala. Dan tidak ada darah yang nampak. *Yaiyalaaahhh.. secara waktu itu saya pakenya hoodie yang tebal, helm dikancing, jeans panjang dan sepatu Cats (aduhh bagaimana sih tulisannya? 'Cats atau Kets' ? *Aahhh Abaikan !! )

Entah di mana Guntur saat itu.. Lawan kami tabrakan pun entah yang mana saya tidak tahu. Yang terlihat hanya ada banyak orang yang berkerumun. Seperti Semut-semut yang mengerumumi gula. Dan saya gulanya. Hahahahahaha *istigfar neng istigfar.. 

Pemandangan yang terlihat di TKP saat itu: 2 motor yang terbaring lemah dengan kondisi yang sangat parah, patahan-patahan kecil motor yang bertebaran *Ga terlalu banyak juga yah. Serta makanan yang berhamburan di jalan. Orang-orang mengira makanan yang berhamburan itu adalah muntahan Guntur. Dan saya pun sempat sedikit negative thinking, "Jangan-jangan kondisi Guntur sangat parah sampe-sampe dia muntah". Tp pikiran lain pun muncul, "Bagaimana mungkin tuh anak muntahnya nasi, mie, telur, sambel dan sayuran. Lah dia kan belum makan dari pagi". Hahahaha ternyata saya salah pemirsa.. makanan yang jatuh itu adalah bekal makan siang si lawan tabrakan kami. *Kasihan juga yah.. bekalnya sampai berhamburan di jalan.

Beberapa menit kemudian, Guntur muncul dengan mulut dan dagu yang berdarah-darah. Ckckckck parah juga lu dek. Lah saya tidak ada lecet sama sekali. Cuman sakit di bahu kiri saja. Tapi makin lama kok sakitnya makin tak tertahankan yah.. Kemudian ada petugas satpol PP yang datang menanyakan keadaanku, dan menyarankan untuk ke UGD RS dekat situ. Kebetulan tempat kecelakaan kami di depan RS. Dadi Makassar, dan yang jaga posnya itu satpol PP. Tapi saya bilang tidak apa-apa. Karena saya menolak untuk ke UGD, jadi saya di ajak ke pos jaga RS itu buat istirahat.  Si bahu kiri makin sakit. Gerak dikit saja, sakitnya makin menjadi-jadi. Dan mulailah sakitnya turun ke perut. Entah ada hubungan apa antara si bahu dengan si perut. Apakah mereka mempunyai jiwa solidaritas yang tinggi? Entahlah..

Saya izin ke petugas yang tadi untuk minjam wc-nya. Setelah mengunci pintu wc, saya makin kesakitan. Yang tadinya hanya bahu dan perut yang sakit, kini kaki dan tangan mulai gemetar dan kepala pusing. Penglihatan mulai gelap, serta muncul perasaan ingin muntah. Tak mau ketinggalan, si keringat dingin juga memunculkan diri. Yang awalnya niat mau pipis jadi batal. Saya duduk di depan pintu untuk menenangkan perasaan, tapi tidak ngaruh. Saya berusaha membuka kunci pintu, biar kalau saya pingsan, saya bisa ditolong.  Pintu wc pun terbuka, mereka yang melihat saya mengatakan saya sangat pucat. Saya pun dibawa ke UGD dengan mempertahankan agar bahu kiri tidak bergerak sedikitpun. Kebetulan dokter yang jaga di UGD itu adalah dokter umum. Beliau menjelaskan panjang lebar dan tidak memberikan tindakan apapun karena takutnya ada tulang yang patah. Intinya, saya disarankan untuk dirujuk ke RS. Labuang Baji Makassar (karena di sana ada dokter tulang katanya). Sebelum saya meng-iya-kan saran beliau, saya menelpon kakak dulu. Nah.. saya kan punya 2 kakak, 1 cewek (Wiwin) dan 1 cowok (Ali). Setelah menelpon kak Wiwin, saya berniat untuk menelpon  kak Ali juga. Tapi pas liat kontaknya, pikiran ini muncul: "Lah.. saya kan lagi musuhan sama dia. Masa sih harus nelpon dia?". Kemudian pikiran baik muncul: "ah bodo amat.. saya lagi kecelakaan, siapa lagi yang harus saya hubungi selain saudara sendiri?".

Alhamdulillah yah.. saya adalah adek kesayangannya kak Ali (*yaelah GeEr amat lu neng.. tau dari mana kalau kamu itu adalah adek kesayangannya? | hahahaha itu bukan ke-GeEr-an yah.. itu pengakuan dari istrinya kak Ali dulu bahwa saya adek kesayangannya. Yaiyalaahhh adek perempuan satu-satunya kok. hahahahah). *Okeh lanjut cerita, kurang dari setengah jam, kak Ali datang bersama istrinya. Mereka tampak khawatir dan mencari-cari saya. Oh yah.. si lawan tabrakan (Rahmat namanya) juga di bawa ke UGD. Betapa herannya saya, di saat saya merasakan sensasi yang sangat nyeri pada bahu kiri dan adek yang mulut serta dagunya berdarah-darah, Rahmat hanya mengalami luka lecet pada telapak tangan dan betisnya. Wah wah.. mungkin dia jatuh cantik yah saat kecelakaan sehingga kondisinya tidak parah-parah amat. Oh wait... saya, Rahmat, kak Ali & Istri, dokter UGD serta satpol PP ada di ruang UGD. Lalu di mana Guntur? Ternyata dia juga ada di UGD itu terbaring di tempat tidur, dan tidak ada yang menanyakan keadaannya. Hahaha kasian bangett lu dek. *tenang.. dia tangguh kok anaknya.

Guntur dan saya dibawa ke RS Unhas
Kebetulan kak Wiwin perawat di RS Unhas. Makanya kak Ali membawa saya dan Guntur ke sana. Turun dari taxi, satpamnya langsung mengambilkan kursi roda dan menyuruh guntur untuk duduk agar segera dibawa ke UGD. Mengapa Guntur? karena yang terlihat berdarah-darah adalah dia. Tapi lagi-lagi guys, Ladies First hahahahaha. Saya lebih kesakitan, makanya saya yang dibawa ke UGD dengan kursi roda. Lalu Guntur? tenang.. dia tangguh kok anaknya. bisa jalan kok sampe  UGD.



Sampai di UGD, dokter yang jaga mulai memeriksa. Dan yang paling sakit memang hanya pada bagian bahu kiri. Disentuh dikit saja sakitnya sudah menjadi-jadi. Dokternya sudah curiga kalau ada tulang yang patah. Tapi semoga saja kecurigaan itu salah. Untuk memastikan, bakal ada dokter Orthopedi (tulang) yang datang memeriksa lebih lanjut. Tapi sebelumnya saya harus dirontgen dulu. Dan karena saya menggunakan hoodie yang tebal, tidak mungkin melepaskan hoodie itu dengan cara yang seperti biasa. Maka saya harus merelakan hoodie angkatan SasJep ku itu digunting. Hiikkkssss hikkkssssss... Jaket Angkatankuuu :( :(


Masih sakit, sakit banget malah si bahu kiri. Sakitnya sulit didefinisikan saking sakitnya. *bukan lebay yah.. ini emang sakit. hahahahah.. Saya pun dibawa ke Radiologi untuk dirontgen. Dan hasilnya baru bisa diambil besok. Tapi karena kak Wiwin berteman dengan petugasnya, maka kak Wiwin minta ke petugasnya untuk difotokan  hasil rontgen yang tadi pakai Hp. Ddddaaaaaannnnnn inilah hasil rontgennya:


(Hasil Rontgen 11 Januari 2016)

Ternyata ada tulang yang patah di bagian bahu kiri. pantas saja rasa sakitnya sulit didefinisikan. Spontan air mataku jatuh. *ini bukan mendramatisir yah, entah mengapa tiba-tiba si air mata menetes. Sampai petugas yang tadi ngomong ke kakak, "itu nangis karena tahu kalau tulangnya patah atau nangis karena kesakitan?". Dengan sedikit tertawa, kak wiwin menjawab; "Sepertinya karena dua-duanya.. hahah". Saya terdiam, saya tidak menyangka akan bisa patah tulang. Saya sedikit kecewa pada diri sendiri karena tidak bisa menjaga fisik ini hingga bisa mengalami patah tulang. Tapi pikiran positif dari diri ini mulai meyakinkan bahwa ada makna dibalik kejadian ini dan ada hikmah dibalik setiap kejadian. 

Saat kembali ke UGD, ternyata ada bapak dan saudara-saudara di sana. kak Wiwin memberitahu mereka bahwa saya patah tulang. bapak mulai terlihat sedih menunjukkan raut wajah yang begitu kasihan padaku yang mengalami patah tulang. Saya meyakinkan bapak bahwa saya tidak apa-apa, ini cuman patah tulang. Dibandingkan mereka yang kecelakaan dan pulang ke rumahnya tak bernyawa lagi, patah tulang begini bukanlah apa-apa (walau sebenarnya saya masih kesakitan). 

Dua Residen Orthopedi pun datang dan mulai memeriksa apakah ada cedera lain atau tidak. Ohh wait.. Apa itu Residen? Sedikit pengetahuan, Residen adalah sebutan untuk dokter yang sedang mengambil pendidikan dokter spesialisnya, biasa disebut PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis). Jadi kalau mereka telah menyelesaikan pendidikan ini, dibelakang nama mereka bakal ada gelar 'Sp.OT' (Spesialis bedah Orthopaedi dan Traumatologi). Jadi kalau ada yang patah tulang atau ada masalah tulang, mereka lah ahlinya. 

Lanjut cerita.. Kemudian kak Wiwin memperlihatkan hasil rontgen yang tadi ke dokter. Dokternya sangat ramah, beliau menjelaskan panjang lebar tentang patah tulang, pemulihan, dan apa yang sebaiknya kulakukan. Dokter menyarankan untuk operasi biar tulangnya nyambung dengan baik. Tapi ini tidak Urgent kok karena saya mengalami patah tulang tertutup. Makanya saya boleh pikir-pikir dulu katanya. Setelah dokternya pergi, pasien sebelah menyarankan saya untuk diurut saja. Operasi terlalu besar resiko katanya. Saya diyakinkan untuk tidak operasi dengan memberikan contoh yaitu tetangganya yang sudah operasi patah tulang di kakinya namun sampai tiga bulan setelah operasi, tetangganya masih sering merasakan sakit pada kaki dan merasakan ngilu saat ada petir. Agar dialog kami cepat selesai, saya mengiya-iyakan saja perkataan bapak itu. Kemudian saya baring dan mulai mempertimbangkan plus-minus keduanya. 

Lalu, apakah saya harus dioperasi atau diurut saja ???? Baca lanjutannya di sini.

No comments:

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Silahkan tinggalkan komentar ^_^

@ilayahya_